Sunday, May 04, 2008

Welcome Ceremony... Wahyu & Niti

Pada 27 April 2008 diselenggarakan syukuran nikahan Wahyu-Niti yang dilaksanakan di Lt.5 Labtek IXC. Acara ini adalah acara "selamat datang" alias penyambutan bagi kedua mempelai baru... cieeeee.....

Tadinya sih mau bikin acara seru-seruan gitu, tapi berhubung sang ketua EO nya (ade) lagi sakit ati, makanya jadinya yah acaranya seadanya aja, yang penting hepi :p

Acara ini dihadiri oleh segenap penghuni lab B3 plus sesepuh pak+bu Enri juga dari lab seberang....


Hani-Dessy-Pritta-Abil (jadi babby sitter nih?)


acara juga diisi oleh pertunjukkan foto-foto nikahanya Wahyu-Niti


ini lho si penganten barunya....


para member yang hadir... lho pada nengok semua sih...


wah... pada jadi babby sitter gini... hehehe

Saturday, May 03, 2008

Disinilah Sampah Jakarta Bermuara

Tau nggak kemana sampah-sampah di Jakarta dibuang? Tentunya di TPA Bantar Gebang, Bekasi. Loh kok di Bekasi? Padahal kan sampahnya dari Jakarta?. Iya bener banget, jadi ceritanya gini... Tanah di Bantar Gebang itu udah dibeli sama Pemerintah DKI untuk dijadikan TPA. Versi yang lain menyebutkan bahwa DKI menyewa lahan kepada Bekasi (dalam hal ini adalah Kota Bekasi), untuk dijadikan TPA yaitu TPA Bantar Gebang.

Belum lama ini gue berkesempatan lagi berkunjung ke TPA Bantar Gebang, Bekasi berkaitan dengan mata kuliah LANDFILL yang sedang gue laksanakan. Oia... di kawasan ini tidak hanya ada TPA Bantar Gebang aja lho... Soalnya TPA Bantar Gebang (mengelola sampah DKI Jakarta) bersebelahan dengan TPA Sumur Batu (mengelola sampah Kota Bekasi) dan juga bersebelahan dengan TPA Burangkeng Setu (mengelola sampah Kabupaten Bekasi).



Gerbang menuju TPA Bantar Gebang


TPA Bantar Gebang seluas lebih dari 100 hektar terdiri dari beberapa zona. Masing-masing zona ini selesai digunakan akan ditutup lalu pindah ke zona yang lainnya.



TPA Bantar Gebang terdiri dari beberapa zona (ada 5-6 zona kalo nggak salah, dan tiap zona ini ada bagian A, B, C)


Kalo untuk sistem TPA nya sendiri, awalnya sih Sanitary Landfill, tapi dalam pengoperasiannya (karena kendala sumber daya dan keuangan) akhirnya berubah menjadi controlled landfill. Jadi konsepnya gini... sampah akan dimasukkan ke dalam tanah yang sudah digali untuk kemudian diurug dengan tanah. Gak boleh asal sembarangan nimbun sampah, soalnya lapisan bawahnya harus dibuat kedap (bisa menggunakan geomembaran atau tanah clay yang dipadatkan). Hal ini dilakukan untuk melindungi air tanah yang ada di bawahnya.

Konsep sanitary landfill, sampah yang masuk ke TPA setiap hari ditimbun dengan tanah pada kedalaman tertentu. Kalo controlled landfill (cuma ada di Indonesia), sampah di timbun dengan tanah dengan periode 3-7 hari sekali. Kalo prakteknya di Indonesia, sampah baru ditimbun dengan tanah setelah beberapa bulan, bahkan ada yang sampai 6 bulan masih belum ditimbun tanah. Kalo udah kayak gini, berarti prakteknya udah berubah menjadi open dumping. Dan hampir sebagian besar TPA di Indonesia masih beroperasi secara open dumping.



Tumpukan sampah yang belum ditimbun tanah



Lokasi yang sudah ditimbun tanah


Sampah yang berada di dalam tanah tersebut lama kelamaan akan terdekomposisi dan menghasilkan air sampah (disebut juga lindi atau leachate) dan gas bio (terdiri dari gas metan dan CO2). Suatu TPA yan baik harus memiliki saluran pengumpul lindi dan kolam pengolahan lindi serta saluran pengumpul gas. Untuk lindi, biasanya diolah pada rangkaian kolam : kolam anaerobik, kolam maturasi dan kolam fakultatif, untuk selanjutnya dapat dibuang ke badan air sesuai dengan baku mutu yang berlaku.



Ckckckckck... lindinya item kayak gitu euy...



Di belakang gue itu kelihatannya kayak small stream gitu ya... padahal itu adalah air hasil olahan kolam lindi, airnya agak item dan agak bau (namanya juga lindi...)


Gas bio yang dihasilkan oleh landfill ini merupakan salah satu gas yang berkontribusi dalam rumah kaca (karena mengandung gas metan alias CH4 dan karbon dioksida alias CO2). Pengolahan gas bio ini dapat dilakukan dengan cara membakarnya (flaring) untuk kemudian dikonversi ke dalam CO2 dan dijual (carbon trading). Untuk beberapa tempat di Indonesia sudah mulai mencoba pengolahan gas bio dengan cara ini (contohnya di Pontianak). Hal ini salah satu bentuk penerapan CDM di bidang persampahan.

Lantas... apakah itu CDM? CDM (Clean Development Mechanism) beranjak dari Protokol Kyoto, dimana negara-negara yang berada dalam Annex-1 (negara-negara Industri kecuali Amerika Serikat dan Australia) berkontribusi dalam mengurangi emisi gas kaca (penyebab global warming) dengan cara subsidi silang kepada negara-negara berkembang untuk membantu pengelolaan gas yang berpotensi menjadi gas rumah kaca. Nah, negara-negara dalam Annex-1 ini juga mempunyai target pengurangan gas rumah kaca (umumnya sebesar 10% hingga tahun 2010). Contohnya Jepang, memiliki komitmen untuk menurunkan gas rumah kaca hingga 7%. Setelah KTT Bumi yang dilangsungkan di Bali tahun 2007, Australia akhirnya bergabung menjadi negara Annex-1. Cuma Amerika Serikat aja nih yang nggak mau ikut dalam kesepakatan Protokol Kyoto (huh...dasar negara maju, udah ngasih polusi tapi kaga mau ikut berbenah diri...).

Duh maaf, kalo infonya ada yang nggak bener mohon dikoreksi aja yah dan tanyakan saja kepada Mr. Google... hehehhe...



TPA Sumur Batu ini udah kerjasama sama Gikoko (Jepang) untuk pemanfaatan gas metan yang dihasilkan oleh sampah pada TPA Sumur Batu



Instalasi gas yang dipasang oleh Gikoko, pas gue dateng kesana sih masih belum beroperasi (lihat aja tuh masih dipelastikin)



Hehehe kayak lagi di depan real estate mana gitu... Padahal mah ini gerbangnya TPA Sumur Batu, Bekasi.



Risky banget ya... Memulung sampah di bawah excavator



Pemulung rebutan sampah yang baru saja masuk ke TPA



Buldozer - Adalah salah satu alat berat yang terdapat di TPA yang berfungsi untuk meratakan dan memadatkan sampah



Kegiatan pemulungan di sekitar TPA



Gue bareng xe_nana di depan pemilahan plastik di Bantar Gebang



Ini foto tahun kemaren di salah satu TPA di Tegal, Jawa Tengah. Kostumnya kok pink juga yah? Hihihi...

Monday, April 28, 2008

Waduk Melati

Waduk Melati berada di Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Waduk ini membentang dari selatan menuju utara. Waduk Melati merupakan waduk buatan yang dibangun (sekitar tahun 60-an)sebagai bagian dari pengendalian banjir (Kopro Banjir), termasuk ke dalam bagian wilayah sungai Ciliwung-Cisadane. Waduk Melati menampung air dari Kebon Kacang dan sebagian permukiman penduduk di sekitar waduk (Kebon Melati). Kondisi Waduk Melati saat ini adalah tercemar oleh limbah domestik dari kawasan permukiman.



Disini loh letaknya Waduk Melati... Deket banget sama bunderan HI



Waduk Melati dilihat dari atas



Kalo bersih, kayaknya keren juga nih



Keren kaannnn?



Apalagi kalo malem...



Anak-anak waduk...



Coba lihat... ada yang lagi ngapain hayo?!?



Hehehe... mejeng aje...



Kalo waduk ini bersih, kayana bukan hanya kano aja deh, bakal ada bebek-bebekan yang dikayuh gitu...



Firman dan Mbak Ade bersiap-siap mengarungi Waduk Melati



Deo dan Yudi bersiap melakukan pengukuran debit waduk di salah satu inlet





Firman dan Deo in action mengukur debit waduk

Monday, April 21, 2008

Wisata Monas Senja Hari

Untuk membunuh kebosanan seharian survey di Waduk Melati, akhirnya kita (kita?!? elo aja kali, gue enggak!!) memutuskan untuk berwisata ke Monas. Sampe di Monas sekitar jam 4-an gitu deh, cuaca cerah menjelang mendung.




Nggak jauh dari parkiran mobil, ada sarana angkutan gratis keliling Monas. Lumayanlah nggak usah pegel-pegel jalan ke Monas nya.



Inilah member wisata senja Monas (gue yang moto)



Mbak Ade gaya heula ah..


Kita memutuskan untuk naik ke atas Monas...



Ngantri dulu buat beli tiket menuju atas Monas. Kalo mau ke 'cawan' nya aja, juga bayar lho. Terakhir gue kesini tiketnya Rp.5.500 (sampe atas Monas), tapi sekarang tiketnya udah jadi Rp.7.000,-



Lho...formasi apa ini?



Suasana di lorong menuju ke tugu Monas



Gedung kecil ini fungsinya apa ya?



Suasana di pelataran Monas



Yang kayak perahu itu disebut 'cawan' Monas



Pak herto berfoto di pelataran 'cawan' Monas dengan background Istiqlal


Di dalam Monas (di cawan) ada museumnya juga, isinya diorama-diorama gitu... Menceritakan tentang perjuangan kemerdekaan RI. Karena udah sore, gue agak males ke musem (tadinya gue kirain udah tutup). Eh tapi ternyata Deo kesana sendirian diem-diem gitu... huuuuu kagak ngajak-ngajak!! Kan gue juga pengen kesana.



Pintu masuk Museum



Sudah hampir senja...



Ternyata, bukan cuma kita yang mau ke atas Monas



Weleh weleh...panjang bener nih antrian...



Ckckckck.... kayanya bisa 1 jam-an nih nungguin giliran naik lift



Hingga senja tiba, giliran naik lift ke atas Monas pun tak kunjung tiba



Senja yang indah, walaupun bukan senja di kota dimana senja tidak pernah tenggelam :)



Jakarta dikala senja



Suasana ketika sudah sampai di depan lift... Desak-desakan bo!!!



Petugas lift nya sampe bete gini... Kayaknya dia udah bosen kali ya dalam sehari naik turun lift berkali-kali



Untuk menuju ke atas, lift nya cuma nunjukkin angka 1,2 dan 3. Berarti cuma ada 3 lantai ya?


Akhirnya setelah perjuangan dan penantian yang cukup lama (maklum deh soalnya hari Sabtu), kita sampai juga di atas... pyufffhhh...



Di atas Monas, kita bisa memandang Jakarta dari atas



Pemandangan yang cukup indah bukan?



Ada papan keterangan di masing-masing sisi (utara-barat-timur-selatan. Isinya sih ngasih tau nama-nama gedung yang bisa kita lihat dari masing-masing sisi tersebut.



Kepalanya jangan dikeluarin, ntar susah masuk lagi lho...



Nah... ini adalah pojokan yang sangat strategis buat foto-foto. terbukti setelah gue berpose disini, yang lainnya ikut-ikutan berpose juga...hehe



Teropong ini kayaknya udah nggak berfungsi lagi deh



Petir sudah mulai menyambar-nyambar dan hujan yang tadinya merintik udah mulai menderas. Karena di atas banyak angin kencang, huhuhuhu jadi basah deh...



Waaaaaaa.... ternyata mau turun ke bawah pun kudu ngantri juga!!!!! Tidaaaaaaakkkkk!!!!



Lagi lagi pas turun lift, walaupun orang yang ngejagain lift nya beda, tapi kadar ke-BT-an nya kayaknya sama deh



Cerita lain tentang MONAS bisa dilihat disini